LOTENG

LOTENG


Semburat kecil disamping rembulan seolah menampakan maksud alam malam ini.
Siapa yang mampu menangkapnya tidak penting bagiku.
Angin berhembus dengan ketakpeduliannya. Kilat berpijar untuk kesekian kalinya mengindahkan sang rembulan.
Sebelah tak tampak terhalang mendung dan semburat di sisi-sisinya.
Semakin larut semakin kelabu kegamangan, kegalauan, menggerus hidup ini terus menerus.
Seperti kelelawar yang membusukkan buah ranum di balik kegelapan.

Menyongsong pagi di selakasa malam.
Tubuhku dibuai cahaya rembulan redup dan temaram. Akku memandang jauh horizon kota dari loteng.
Mengurai waktu yang pekat oleh galau.

Melanda hati badai.
Merobohkan rasa kasih sibuk suara motor menyumpal telingaku.
Hanya motor dan bising kota, sudut-sudut jalan, peron, halte kosong, hanya angina.
Bintik lampu di sejauh mata memandang mengoyak tangisku.
Mataku yang bening terlinang mengingat memori-memori kecil masa kecil dulu.
Huruf L dibawah genting dinding rumah itu mengusik tanyaku.
Dan salib gereja katedral yang menjulang menantang langit.
Ampuni aku yang tengah sulit diwaktu muda ini Tuhan.
Langkah kecilku dulu penuh semangat.
Memperoleh mangga untuk teman kecil penuh jiwa suka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s