LEARNING TO LIFE TOGETHER

Oleh: Muhammad Abdurrohim
Selama otak manusia tercipta dalam keadaan berpisah satu sama lain, maka perbedaan pendapat, pertikaian, percekcokan, perdebatan bahkan perselisihan yang berujung kekerasan masih mungkin terjadi. Tanpa adanya kontrol pribadi serta pengejawantahan hukum yang tegas hal demikan menjadi sulit dihindari, bahkan semakin menjadi jadi. Seperti yang terjadi akhir-akhir di beberapa daerah di Indonesia.
Bentuk kekerasan yang bermula dari perselisihan yang terjadi hampir serempak di beberapa daerah mempunyai pola yang sama, yaitu rasa tersinggung yang tinggi oleh sekelompok orang dari persoalan yang sepele, seperti perkelahian antar pemuda satu daerah dengan daerah yang lain. Pola ini dapat dipahami sebagai akibat dari rasa kepedulian yang terlalu tinggi dan rendahnya pengetahuan tentang keserasian hidup dalam bermasyarakat. Seperti yang selama ini disampaikan dalam matapelajaran baik sekolah maupun pendidikan tinggi tentang seni hidup bersama, keselarasan, keserasian, dan keseimbangan dalam pola hidup bermasyarakat. Ini yang telah dilupakan oleh masyarakat, terutama para tokoh sentral dalam struktur masyarakat terendah yaitu kepala keluarga.
Respon berlebihan dari para orang tua yang terlibat dalam konflik masyarakat tersebut tidak mencerminkan sikap pribadi yang berpendidikan. Membawa persoalan yang sepele menjadi konflik besar yang berujung pada tindak kekerasan adalah cerminan bahwa masyarakat sudah melupakan prinsip hidup bersama (live together). Tindakan bijak yang seharusnya menjadi sikap para orang tua adalah mendamaikan persoalan dengan kepala dingin. Jika langkah tepat diambil sejak pertama akar persoalan muncul, maka tindakan anarkis tidak akan terjadi.
Sebagai orang tua, keteladanan adalah satu hal dalam konsep pendidikan yang sangat penting. Sejak pendidikan dimaknai oleh UNESCO sebagai proses pembelajaran dengan prinsip learning to think, learning to do, learning to be, learning to learn, learning to live together, sejak itu pulalah prinsip keteladanan berlaku. Jika anak-anak didik sebagai objek pendidikan telah melakukan kekeliruan dalam hidup bermasyarakat, maka orang tua sebagai anggota masyarakat yang berpengalaman seharusnya meluruskan dengan jalan menunjukkan bagaimana caranya berkehidupan di masyarakat. Seperti sikap meredam konflik antar pemuda serta menyelesaikannya dengan jalan mediasi atau dialog. Ini adalah prinsip pembelajaran berkehidupan bersama yang selayaknya diterpakan oleh para orang tua dimanapun ia tinggal baik dalam lingkup satu RT, kampung, kelurahan, desa, hingga sampai tingkat kenegaraan.
Akhir-akhir ini yang terjadi adalah orang tua yang malah mengompori dan menunjukkan ketangguhan dan kekuatan untuk melawan. Sehingga persoalan tidak selesai dengan jalan damai, tapi justru bertumpahnya darah bahkan terenggutnya nyawa anggota masyarakat. Persoalan kemasyarakatan yang bersifat mendasar seperti kasus tersebut merupakan feses dari frustasi masyarakat menghadapi kondisi ekonomi dan politik yang tengah terjadi di negeri ini. Ketika konflik muncul seiring dengan kekacauan di tingkat penegak hukum seperti Polri, Kejaksaan, bahkan KPK maka pola pikir jernih masyarakat tidak dipakai lagi. Sehingga keberadaan prinsip pendidikan kebermasyarakatan yang sudah berjalan baik menjadi kacau. Ketidak pedulian masyarakat pada hukum positif, hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum, serta tergerusnya budaya musyawarah antar warga juga merupakan efek nyata dari krisis ekonomi politik tersebut. Semoga pemerintah belajar dari hal demikian.
Muhammad Abdurrohim, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, Sekretaris Umum LPM Edukasi 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s