KEPERCAYAAN & RITUAL ISLAM – JAWA

KEPERCAYAAN & RITUAL
ISLAM – JAWA

Oleh: M. Abdurrohim
Islam masuk ke tanah jawa tidak menemui satu bentuk kepercayaan saja, akan tetapi banyak kepercayaan bahkan perpaduan kepercayaan yang dimulai dari zaman pra hindu-budha, yaitu animisme-dinamisme, Hindu dan Budha. Sehingga bentuk kepercayaan maupun ritual bukanlah asli dari jawa itu sendiri, akan tetapi bentuk sinkretis dari semua kebudayaan yang dibawa oleh hindu-budha.

Karena kebudayaan jawa yang dihasilkan pada masa Hindu Budha ini bersifat terbuka untuk menerima agama apapun, maka sangtlah wajar jika kebudayaan jawa sangat bersifat sinkretis (bersifat momot atau memuat), di mana setiap agama diterima dengan sikap terbuka dan tidak memedulikan salah benarnya agama tersebut
Pada abad ke XVI datanglah agama Islam ke Jawa yang di bawa oleh para Walisongo. Agama Islam berbeda dengan kepercayaan yang mereka anut sebelumnya, namun islam juga mempunyai sifat terbuka dengan budaya yang disinggahinya ini. Sifat keterbukaan kedua-duanya jawa dan islam akhirnya membentuk sebuah sinkretis baru dalam khazanah budaya jawa. Adapun contoh dari ritual-ritual asli Jawa yang telah dimasuki ajaran-ajaran Islam diantaranya seperti upacara: Mitung Dino, Patang Puluh Dino, Nyatus, Mendak, Nyewu, dan sebagainya.

Akulturasi Budaya Jawa dan Islam

Dalam proses penyebaran Islam di Jawa terdapat dua pendekatan tentang bagaimana cara yang ditempuh agar nilai-nilai Islam dapat diterima dalam masyarakat Jawa. Pendekatan tersebut adalah pertama Islamisasi Kultur Jawa. Melalui pendekatan ini budaya Jawa diupayakan agar tampak bercorak Islam baik secara formal maupun secara substansial yang ditandai dengan penggunaan istilah-istilah islam, nama-nama Islam, pengambilan, peran tokoh Islam pada berbagai cerita lama, sampai kepada penerapan hukum-hukum, norma-norma Islam dalam berbagai aspek kehidupan. Pendekatan kedua : Jawanisasi Islam, yang diartikan sebagai upaya penginternalisasian nilai-nilai Islam melalui cara penyusupan kedalam budaya Jawa. Melalui cara pertama, Islamisasi dimulai dari aspek formal terlebih dahulu sehingga simbol-simbol keislaman nampak secara nyata dalam budaya Jawa, sedangkan cara kedua, meskipun istilah-istilah dan nama-nama jawa tetap dipakai, tetapi nilai yang dikandungannya adalah nilai-nilai Islam sehingga Islam menjadi men-Jawa. Berbagai kenyataan menunjukkan bahwa produk-produk budaya orang Jawa yang beragama Islam cenderung mengarah kepada polarisasi Islam Kejawaan atau Jawa yang keislaman sehingga timbul istilah Islam Jawa atau Islam Kejawen.
Sebagai suatu cara pendekatan dalam proses akulturasi, kedua kecenderungan tersebut merupakan strategi yang sering diambil ketika dua kebudayaan saling bertemu. Apalagi pendekatan itu sesuai dengan watak orang Jawa yang cenderung bersikap moderat serta mengutamakan keselarasan.
Tampaknya tradisi menyelaraskan antara Islam dan budaya Jawa ini telah berlangsung sejak awal perkembangan Islam di Jawa. Salah satunya di tulis dalam literatur karya sastra yaitu Serat Wirit Hidayat Jati karya R. NG. Ranggawarsita yang merupakan kitab mistis yang cukup lengkap, padat dan bulat. Adapun isinya adalah mengenai ajaran tentang Tuhan dan hubungan antara dzat, sifat, asma dan af’al Tuhan, uraian tentang penciptaan manusia dan hakikat manusia, serta aspek budi luhur beserta berbagai ajaran yang berkaitan dengan mistik.

Aspek Kepercayaan
Setiap agama dalam arti seluas-luasnya tentu memiliki aspek fundamental, yakni aspek kepercayaan atau keyakinan, terutama kepercayaan terhadap sesuatu yang sakral, yang suci atau yang ghaib. Dalam agama Islam aspek fundamental itu terumuskan dalam istilah aqidah atau keimanan sehingga terdapatlah rukun iman, yang di dalamnya terangkum hal-hal yang harus dipercayai atau diimani oleh muslim.
Akan tetapi sebelum Islam datang, masyarakat Jawa telah mempunyai kepercayaan yang bersumber pada ajaran Hindu yang ditandai dengan adanya para dewata, kitab-kitab suci, orang-orang suci, roh jahat, lingkaran penderitaan (samsara), hukum karma dan hidup bahagia abadi (moksa). Disamping itu juga ada yang bersumber pada ajaran Budha yang ditandai dengan adanya percaya pada Tuhan (Sang Hyang Adi Budha), selain itu juga ada kepercayaan animisme dan dinamisme. Setelah kedatangan Islam ke Jawa, terjadilah suatu interelasi Islam dengan Jawa yang salah satunya adalah interelasi antara kepercayaan dan ritual Islam dengan nilai-nilai Jawa. Pada dasarnya interelasi ini ditempuh dengan jalan penyerapan secara berangsur-angsur, sebagaimana yang dilihat dan dilafalkan Islam berbahasa arab menjadi fenomena Jawa.
Agama Islam yang dianut orang Jawa disebut sebagai Agami Jawi atau Kejawen. Hal itu merupakan suatu kompleks keyakinan dan konsep-konsep Hindu Budha yang cenderung ke arah mistik yang tercampur menjadi satu dan diakui sebagai agama Islam. Varian agama Islam santri, pada dasarnya belum bebas dari unsur-unsur animisme dan unsur-unsur Hindu Budha, akan tetapi lebih dekat pada dogma-dogma ajaran Islam yang sebenarnya.
Sistem keyakinan agami Jawi memandang Nabi Muhammad sangat dekat dengan Allah. Dalam hampir setiap ritus dan upacara, pada waktu mengadakan pengorbanan, sajian, atau slametan, seorang Jawa mengucapkan nama Allah, mereka juga mengucapkan nama Nabi Muhammad, yang dalam bahasa Jawa dinyatakan sebagai berikut :”Kanjeng Nabi Muhammad Ingkang Sumare Ing Siti Madinah”.
Berdasarkan ukuran sampai di mana kebaktian agama islamnya atau ukuran kepatuhan dalam menjalankan sarengat (syari’at) islam jawi dibedakan menjadi dua golongan yaitu: Golongan Santri , merupakan orang muslim saleh yang memeluk agama islam dengan sungguh-sungguh dan dengan teliti menjalankan perintah-perintah agama islam sebagaimana yang diketahuinya, sambil berusaha membersihkan aqidahnya dari syirik yang terdapat di daerahnya.
Golongan Abangan, secara harfiyah abangan berarti “yang merah” yang diturunkan dari pangkal kata abang (merah). Istilah ini mengenai orang muslim jawa yang tidak seberapa memperhatikan perintah-perintah agama islam dan kurang teliti dalam menekuni kewajiban-kewajiban agama.
Agama Jawi ini lebih dominan di daerah-daerah Negarigung di Jawa Tengah, di Bagelen dan di daerah Mancanegari, sedangkan agama Islam Santri lebih dominan di daerah Banyumas dan pesisir Surabaya, daerah pantura, ujung timur pulau Jawa, serta daerah-daerah pedesaan di lembah sungai Solo dan sungai Brantas.
Selanjutnya mengenai sistem keyakinannya agami Jawi dan islam santri terdapat perberbedaan diantaranya adalah sebagai berikut:
Sistem budaya Agami Jawi setaraf dengan system budaya dari agama yang dianut orang Jawa. Terdapat berbagai keyakinan, konsep, pandangan dan nilai, seperti yakin adanya Allah, Muhammad sebagai pesuruh Allah, yakin adanya Nabi-nabi lain dan tokoh-tokoh Islam keramat, yakin adanya konsep dewa-dewa tertentu yang menguasai bagian-bagian dari alam semesta, memiliki konsep-konsep tertentu tentang hidup dan kehidupan setelah mati, yakin adanya makhluk-makhluk halus jelmaan nenek moyang yang sudah meninggal, yakni roh-roh penjaga, yakin adanya setan hantu dan raksasa dan yakin akan adanya kekuatan-kekuatan ghaib dalam alam semesta ini.
Sistem keyakinan Islam santri baik penduduk pedesaan maupun kota berawal dari akulturasi, mereka dilatih membaca al-Qur’an yang terdiri dari konsep-konsep puritan mengenai Allah, Nabi Muhammad, mengenai penciptaan dunia, perilaku yang baik dan buruk, kematian dan kehidupan dalam dunia akhirat, yang semua telah dipastikan adanya. Orang santri di pedesaan umumnya menerima konsep-konsep ini sebagaimana adanya tanpa mempedulikan mengenai interpretasinya; akan tetapi para santri di kota biasanya memperhatikan moral serta etika dari interpretasi dari ajaran-ajaran tersebut.
Jadi dapat disimpulkan dari aspek ketuhanan, prinsip ajaran tauhid Islam telah tercampur dengan keyakinan Jawa (Hindu, Budha, Animisme dan Dinamisme), diantaranya sebutan Allah menjadi Gusti Allah, Ingkang Maha Kuwaos (al-Qadir). Disamping itu juga ada Hyang Jagad Nata (Allah Rabb al-Amien), kata Hyang berarti Tuhan atau Dewa. Dikalangan umat Islam Jawa masih ada bekas dan pengaruh kepercayaan animisme yang dapat kita saksikan dalam bentuk baru. Misalnya zaman dahulu azimat dibuat dari kuku harimau, saat ini dibuat dengan secarik kertas yang ditulis dengan petikan ayat-ayat al-Qur’an. Dalam aspek ketentuan takdir baik buruk dari Tuhan, tradisi Jawa dipengaruhi oleh teologi Jabariyah yang menyebabkan orang Jawa lebih bersikap pasrah, sumarah dan nrimo ing pandum terhadap takdir Allah.

Aspek Ritual
Menurut orang Jawa terdapat hubungan antara manusia yang tinggal di alam nyata ini dengan dunia ghaib yang tidak tampak, sehingga agar tidak saling mengganggu diperlukan adanya suatu ritual. Pada dasarnya kehidupan orang Jawa dipenuhi dengan upacara yang berkaitan dengan lingkaran hidup manusia, upacara itu dilaksanakan untuk menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan ghaib yang tidak dikehendaki dan sesaji atau korban yang disajikan kepada daya kekuatan ghaib (roh-roh, makhluk halus, dewa-dewa) tertentu.
Sebagaimana yang dilakukan orang Jawa, agama Islam juga menganjurkan kepada pemeluknya untuk melakukan kegiatan-kegiatan ritualistik tertentu. Bentuk kegiatan ritual ini tercantum dalam rukun Islam yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Beberapa jalan ritual dalam Islam yang telah menyatu dengan masyarakat Jawa adalah shalat dan puasa. Menurut Islam, shalat itu merupakan do’a yang ditujukan kepada Allah SWT, sedangkan orang Islam Jawa shalat sebagai sarana bersih diri dan dipandang sebagai pencapaian kesempurnaan ritual.
Geertz dan Koentjoroningrat mengemukakan, berbagai upacara yang berkaitan dengan lingkaran hidup, antara lain :
Upacara Tingkeban atau Mitoni
Yaitu ritual pertama dari siklus kelahiran manusia, pada saat janin berusia tujuh bulan dalam rahim ibu. Dalam upacara ini dipersiapkan sebuah kelapa gading yang digambari wayang Dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih supaya si bayi seperti sang Dewa jika laki-laki dan seperti sang Dewi jika perempuan. Kemudian sang ibu dimandikan oleh para ibu-ibu dengan air kembang setaman (air yang ditaburi mawar, melati, kenanga, dan kantil) yang biasa dinamakan tingkeban.
Upacara Kelahiran
Slametan pertama yang berhubungan dengan lahirnya bayi dinamakan brongkohan. Dan saat anak diberi nama dan pemotongan rambut (cukur) yang berumur tujuh hari yang disebut sepasar.
Dalam tradisi Islam disebut dengan korban aqiqah (kekah) yang ditandai dengan penyembelihan kambing dua ekor untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan.
Upacara Sunatan
Upacara sunatan ini dilakukan pada saat anak laki-laki dikhitan. Pelaksanaan khitan ini merupakan perwujudan secara nyata tentang hukum Islam. Sunatan ini sering disebut selam (nyelamaken) yang mengandung makna meng-Islamkan (ngIslmaken).
Upacara Perkawinan
Upacara ini dilakukan pada saat pasangan muda-mudi akan memasuki jenjang rumah tangga. Upacara ini ditandai dengan pelaksanaan syari’at Islam yaitu akad nikah (ijab qabul) dan diiringi dengan slametan.
Akad nikah ini dilakukan oleh pihak wali mempelai wanita dengan pihak mempelai pria dan disaksikan oleh dua orang saksi laki-laki. Sedangkan slametan ini dilakukan dengan bertahap dari sebelum akad nikah, akad nikah dan sesudah akad nikah (ngunduh manten, resepsi pengantin).
Dalam budaya Jawa misalkan daerah Solo dan Yogyakarta, setelah pengantin ijab qabul kemudian acara temu dengan iringan gending kodok ngorek. Setelah berjarak dua meter kedua pengantin saling melempar daun sirih (jika lemparannya lebih cepat sampai menandakan kehidupan dalam pernikahan akan selalu menang) dan seterusnya.
Sedangkan perkawinan di wilayah pantai utara Jawa, aturan-aturan Islam bersumber dari al-Qur’an dan teks-teks bahasa Arab, di desa-desa pedalaman hukum Islam itu bercampur dengan unsur-unsur Hindu non Islam. Meskipun begitu, substansi peraturan yang bersumber dari Fiqh, terutama dalam kasus-kasus perkawinan tetap utuh. Jika ada unsur-unsur lokal, itu hanyalah terbatas dalam upacara-upacara. Pengaruh upacara adat lokal terhadap prosesi perkawinan ada dua bagian: pertama, di daerah-daerah yang kuat pengaruh santrinya, tradisi lokal semakin menipis. Sedangkan kedua di daerah-daerah yang kuat tradisinya, upacara-upacara yang berasal dari Hindu-Budha atau tradisi setempat dipertahankan. Meskipun begitu, substansi perkawinan, seperti syarat dan rukun, masih sepenuhnya Islam.
Upacara Kematian
Upacara yang dilaksanakan saat mempersiapkan penguburan orang mati yang ditandai dengan memandikan, mengkafani, menshalati, dan pada akhirnya menguburkan jenasah ke pesarean (pemakaman). Selama sepekan setelah penguburan diadakan tahlilan tiap malam hari yang dinamakan slametan mitung dino, yaitu kirim do’a kepada si jenasah yang didahului dengan bacaan tasybih, tahmid, takbir, tahlil dan shalawat pada Nabi Muhammad saw. Sebagaimana budaya Jawa, slametan ini dilakukan sampai mendaknya orang yang meninggal. Di samping itu juga ada upacara nyadran yaitu upacaa ziarah kubur pada waktu menjelang bulan Ramadhan.
Selain dari beberapa upacara-upacara tersebut, ada juga upacara yang berkaitan dengan lingkaran hidup yaitu upacara atas kekeramatan bulan-bulan hijriyah dan upacara tahunan. Pada kekeramatan bulan-bulan hijriyah ada upacara bakda besar, suran, saparan, rejeban, syawalan (kupatan), grebek besar Sedangkan upacara tahunan seperti Mauludan pada tanggal 12 bulan Maulud atau Rabiul Awal (peringatan hari lahir Nabi Muhammad saw), nisfu sya’ban pada pertengahan bulan Sya’ban (ruwah).
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam penyebaran Islam di Jawa terdapat berbagai cara yang ditempuh agar nilai-nilai Islam dapat diserap menjadi bagian dari budaya Jawa. Diantaranya dengan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Islamisasi Kultur Jawa dan Jawanisasi Islam.
Baik secara langsung maupun tidak langsung hubungan antara budaya Jawa dalam aspek kepercayaan dan ritual menunjukkan adanya kehidupan keberagaman orang jawa sebagai suatu upaya untuk mengakomodasikan antara nilai-nilai Islam dengan budaya Jawa pra-Islam.

Upaya tersebut telah dilakukan sejak Islam dengan budaya pra-Islam yang telah dilakukan sejak Islam mulai disebarkan oleh para mubaligh yang tergabung dalam Walisongo dan dilanjutkan oleh para pujangga kraton,serta dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa Islam. Upaya tersebut masih terus berproses smpai sekarang. Sebagian dari nilai-nilai Islam itu telah menjadi bagian dari budaya Jawa, kendati demikian warisan nilai-nilai budaya pra-Islam masih tampak meskipun wadah yang kelihatan Islami. Seperti halnya dalam upacara-upacara yang dilakukan oleh orang Jawa yang berkaitan dengan lingkaran hidup manusia yakni upacara mitoni, kelahiran,sunatan, perkawinan, kematian,dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, M. Darori. 2000. Islam dan Kebudayaan Jawa . Yogyakarta: Gama Media
Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: PN Balai Pustaka
Muchtarom, Zaini. 2002. Islam di Jawa dalam Perspektif Santri & Abangan . Jakarta: Salemba Diniyah
Musyarof, Ibtihadj. 2006. Islam Jawa. Jogjakarta : Tugu Publisher
Simuh.1980. Mistik Islam Kejawen. Yogkarta: Pustaka Raja Purwa
Simuh, Dr.. 1999. Sufisme Jawa; Transformasi Tasawuf Islam Ke Mistik Jawa, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s