ME-NEGASI FISIKA ATHEIS

ME-NEGASI FISIKA ATHEIS
Oleh: M. Abdurrohim*


Apa yang dikatakan oleh Fritcof Capra perlu kita renungi bersama, bahwa kondisi manusia modern sekarang ini sedang berada dalam kegilaan. Dalam dunia fisika sendiri para ilmuan sedang saling melempar tuding “gila” kepada sesama ilmuan karena suatu kenaifan sedang dipublikasikan menjadi pengetahuan umum. Apa lagi kalau tidak teori fisika kuantum yang hingga saat ini masih menjadi pengetahuan abstrak bagi para ilmuan. Meskipun ada sebagian ilmuan yang lain merasa ini adalah suatu pencapaian terbesar dalam sejarah perkembangan fisika dunia.

Ada banyak hal yang perlu dilanjutkan dalam memahami teori fisika terutama ketika sudah mencapai pada taraf pengenalan diri kepada sesuatu yang tidak mampu dipikirkan. Seperti yang dialami oleh ilmuan dari london yang akhir-akhir ini menerbitkan buku barunya yang berjudul The Grand Design dimana ia mengangkat sebuah pernyataan tentang keberadaan tuhan yang sekali lagi ditolak dalam teori fisika modern.
Hawking menulis dalam bukunya tersebut bahwa “Karena adanya hukum seperti gravitasi, tata surya dapat dan akan membentuk dirinya sendiri. Penciptaan spontan adalah alasannya mengapa sekarang ada ‘sesuatu’ dan bukannya kehampaan, mengapa alam semesta ada dan kita ada. Tidak perlu memohon kepada Tuhan untuk memulai segalanya dan menggerakan alam semesta.
Pernyataan ateis yang demikian ini bukanlah sesuatu yang baru, sejak abad pertengahan ketika dominasi gereja tidak lagi berpengaruh. Para ilmuan sedikit banyak menggali kembali akar materialisme sebagai cikal tumbuh suburnya ateisme. Immanuel Kant-lah yang pada masa ini, menyatakan paham materialisme. Kant menyatakan bahwa alam semesta ada selamanya dan bahwa setiap probabilitas, betapapun mustahilnya, harus dianggap mungkin. Pengikut Kant terus mempertahankan gagasannya tentang alam semesta tanpa batas beserta materialisme. Pada awal abad ke-19, gagasan bahwa alam semesta tidak mempunyai awal- bahwa tidak pernah ada momen ketika jagat raya diciptakan-secara luas diterima. Pandangan ini dibawa ke abad ke-20 melalui karya-karya materialis dialektik seperti Karl Marx dan Friedrich Engels.
Dengan mempercayai kebenaran model “jagat raya tanpa batas”, Politzer menolak gagasan penciptaan dalam bukunya Principes Fondamentaux de Philosophie ketika dia menulis:
Alam semesta bukanlah objek yang diciptakan, jika memang demikian, maka jagat raya harus diciptakan secara seketika oleh Tuhan dan muncul dari ketiadaan. Untuk mengakui penciptaan, orang harus mengakui, sejak awal, keberadaan momen ketika alam semesta tidak ada, dan bahwa sesuatu muncul dari ketiadaan. Ini pandangan yang tidak bisa diterima sains.
Politzer menganggap sains berada di pihaknya dalam pembelaannya terhadap gagasan alam semesta tanpa batas. Kenyataannya, sains merupakan bukti bahwa jagat raya sungguh-sungguh mempunyai permulaan. Dan seperti yang dinyatakan Politzer sendiri, jika ada penciptaan maka harus ada penciptanya.
Setidaknya kebodohan yang dulu pernah muncul sekarang berusaha dimunculkan kembali oleh Stephen Hawking. Dengan mendasarkan teorinya pada fisika kuantum dan gravitasi ia berusaha menolak kembali keadaan alam semesta ini yang bermula dari sebuah ledakan besar. Dengan kata lain teori spontanitas menggantikan teori ledakan besar.
Ada yang salah dalam pola berpikir ilmuan satu ini, bahwa teori yang sudah terbukti tidak akan mampu ditolak dan digugurkan, kemudian seandainya ia mempunyai teori baru, maka ia harus dibuktikan lagi. Teori kuantum yang selama ini di gadang-gadang hanya terjadi pada materi mikro, analogi yang salah ketika alam semesta yang sebesar ini disamakan dengan materi mikro. Materi yang memenuhi sifat-sifat kuantum memang berperilaku muncul dan hilang secara tidak pasti, akan tetapi proses yang seperti apakah jika itu yang terjadi pada alam semesta yang sebesar ini?
Hawking memang membandingkan agama dan ilmu pengetahuan dengan pernyataan : “Terdapat perbedaan mendasar antara agama, yang berdasarkan pada otoritas, dan ilmu pengetahuan, yang berdasarkan pada observasi dan alasan. Ilmu pengetahuan akan menang karena memang terbukti.”
Jika melihat bentuk pola integrasi agama dan sains seperti yang pernah didapatkan di kuliah-kuliah, model integrasi semacam ini adalah integrasi yang mutlak tidak dapat disatukan. Akan tetapi jika kita melihat perkembangan agama serta pemikirannya maka sesunguhnya agama lah yang mengiringi perkembangan sains manusia, bukan menjadi otoritas yang menghegemoni. Seperti salah satu ayat yang terdapat dalam Kitab Suci Umat Islam dibawah ini:
“Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al An’aam, 6: 101)
Tidak ada otoritas, tidak ada hegemnoni berpikir, Al-quran hanya memberikan arah kebenaran yang tidak perlu diperdebatkan kembali. Alam semesta yang ada dari ketiadaan , meskipun dicari bentuk-bentuk teori perlawanannya tetap saja akan kembali pada kesimpulan yang mendasar. Yaitu apa penyebab utamanya?, yang jawabannya tak lain adalah Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s