CERITA DESAKU……(Bag 1)

Muhammad Abdurrohim adalah namaku, nama panggilanku dulu sangat familiar dikalangan anak-anak…..(Nang Mbes) aku sendiri sampai saat ini masih berpikir tentang sejarah namaku tersebut. Kata orang-orang, itu adalah nama yang menunjukkan kalau pemilik nama sering ingusan dan muka menjadi rembez. Meskipun begitu saya sempat enjoy dengan nama tersebut sampai saya duduk di bangku sekolah menengah.


Eiiit….saya malah enjoy bercerita tentang pribadi saya…padahal judul cerita ini adalah cerita desaku, maka seharusnya saya menceritakan tentang desaku yang indah nan permai itu. Nah….sekarang akan saya mulai dengan sedikit mengingatkan bahwa tidak ada kata sempurna dalam hidup ini kecuali Tuhan itu sendiri. Karena seiring dengan berkembangnya zaman, semakin berkembang pula orang berpikir. Dulu orang sering mengaitkan segala sesuatu dengan keberadaan makhluk halus, (Animis dan Dinamis) sekarang orang pasti tidak akan percaya kalau mereka belum melihat secara terang-terangan dengan apa yang didengar dari orang lain. Seperti contohnya di Desaku ini. Desa Ngroto Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan, adalah sebuah desa yang dihuni oleh mayoritas masyarakat muslim dengan konsentrasi islam sunni alias ahlu sunnah wal jamaah. Dulu memang sering kita mendengar dan mempercayai semua cerita yang disampaikan oleh pendahulu-pendahulu kita, seperti cerita tentang keberadaan makhluk halus atau setan di daerah-daerah yang rungkut. Adanya pocong di salah satu jalan desa, serta cerita-cerita tentang mitos lokal kampung yang dijual di forum-forum perbincangan siswa-siswi di kelas.

Ini tentang kehidupan salah satu keluarga pecinta sungai di bantaran sungai Tuntang. Kebetulan Desaku dilintasi sebuah sungai yang berhulu di Rawapening Ambarawa, yaitu sungai Tuntang. Sebuah hal yang umum jika seluruh warga desa akan melihat sungai ketika sedang meluap di musim penghujan dan musim beno. Mereka rame-rame akan melihat sungai di tanggul-tanggul yang dulu berukuran kecil. Nah….di sebuah sore di sungai tuntang yang sedang meluap sedikit demi sedikit dengan arus yang begitu deras serta banyaknya sampah yang hanyut sehingga menambah pemandangan begitu terlihat fantastis…..beberapa orang dengan gagah beraninya berenang menerabas arus deras itu demi sebuah kayu-kayu yang cukup bernilai. Karena jika beruntung kayu yang di dapat berupa kayu balok dengan ukuran lumayan, sehingga seharga dengan tiang rumah bahkan blandar. Seorang paruh baya terlihat menceburkan diri dan mencoba menyeret sebuah kayu berukuran 2 meter dengan diameter sekitar 50 cm, dan dia berhasil seketika itu pula orang-orang yang kebetulan menonton bersorak…orang itu bernama Wak Senen. Dia adalah pencipta sekaligus pemilik perahu yang pernah ada di desa tersebut dengan keahliannya yang sangat legendaris. Ia lah yang paling berjasa menyeberangkan orang-orang sebelum terdapat jembatan yang menghubungkan Desa Ngroto dan Ginggang atau Jeketro. Maka keberadaan perahu pada saat itu sangat dibutuhkan. Kembali ke kayu…….dengan senang ia mengikat kan kayu itu ke pohon yang kuat yang terletak ditepian suangai tersebut. Selah itu giliran ayahku yang tiba-tiba menceburkan dirinya ke air keruh itu….dan ternyata ayahku mendapatkan kayu yang jauh lebih besar, meskipun kayu tersebut bukan termasuk kayu yang bernilai mahal. Ukuran kayu tersebut adalah 3 m dengan diameter kurang lebih 1 meter. Singkatnya cerita kedua-duanya kayu tersebut sama-sama digunakan untuk memasak nasi setiap hari. Setelah bebrapa hari ternyata ada kejadian anaeh….seraong anak dari wak senen tiba-tiba meraung-raung bagaikan macan atau harimau……………………..(bersambung)

4 thoughts on “CERITA DESAKU……(Bag 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s