KASIH SAYANG SEORANG AYAH YANG BERUBAH MENJADI KEMURKAAN

Peristiwa 18 Oktober 2011
Kehidupan yang menyedihkan sering terjadi di sela – sela hingar bingar ramainya isu-isu politik yang sedang terjadi di pusat pemerintahan. Meskipun hal ini sudah biasa, namun ketika kita mendengar atau melihat sendiri kondisi tersebut, maka tak kuasa hati ini membendung rasa iba disamping perasaan marah dan benci terhadap perilaku dan hasi…l kerja yang tidak memuaskan dari para penguasa negeri ini.
Di suatu pagi yang temaram oleh semburat mendung yang menutupi mentari, saya mendengar seorang bapak yang sedang memaksa anaknya memakan sepiring nasi yang ia belinya dari warung. Maklum, ia ditinggal sang istri entah ke mana sejak sekitar 3 bulan yang lalu. Setiap hari ia harus merawat anaknya yang duduk di bangku sekolah dasar, untuk senantiasa belajar dan bermain bersama teman-temannya sepulang sekolah. Disela-sela ia harus mencari penghasilan utama dari profesi dia sebagai tukang parkir di salah satu swalayan di kota ngaliyan.
Pagi itu anak yang sudah ia mandikan, bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, dengan seragam yang ia kenakan ia disuruh untuk melahap nasi yang dibelikan oleh ayahnya dari warung terdekat, kebiasaan ini hampir setiap hari terjadi di sebuah gank sempit di dekat jalan raya ngaliyan. Di situ anak dan bapak itu tinggal di sebuah kontrakan semi indekost yang hanya berukuran 3 x 2 meter. Sang anak biasanya menurut dengan belain kasih saying ayahnya yang setia menyuapi anaknya tersebut. Namun pagi itu entah kenapa sang anak tidak mau memakan nasi tersebut, ia beralasan nasi yang ia makan terlalu pedas. Sang ayah tampak tidak terima dengan alasan anaknya harus makan pagi itu, akan tetapi sang anak tetap bersikeras tidak mau memasukkan nasi itu barang sesendok pun. Sang ayah mulai naik pitam, dipaksa anaknya untuk memakan dengan memaksa sendok makan itu masuk ke dalam mulut sang anak, tapi sang anak tetap tidak mau, akhirnya ia menangis dan sang ayah marah, meninggalkan anaknya ke luar entah ke mana.
Sebenarnya saya melihat kasih saying yang besar dari sang ayah, akan tetapi mungkin anak yang kurang mengerti keadaan ayahnya yang demikian itu sehingga seperti merasa seenaknya sendiri, menuruti apa yang dia inginkan saja. Begitu pula sang ayah yang seolah berharap anaknya menjadi anak yang menurut dan mengerti keadaan orang tuanya, tapi itu tidak terjadi, akhirnya putus asalah sang ayah hingga saya mendengar sendiri ucapan terakhir sang ayah untuk anaknya “asu tenan”.
Hati dan jiwa ini miris begitu mendengar suara galau dan amarah itu secara langsung meski saya sebenarnya tidak melihat langsung. Saya hanya mendengar dari balik tembok saja. Teriris rasanya mendengar penderitaan sang ayah dan anak malang itu. Betapa sulitnya hidup yang mereka tempuh, namun apa daya, negeri ini sudah lupa akan rakyat kecilnya seperti ayah dan anak itu. Mereka hanya memikirkan kekuasaannya sendiri tanpa mengerti dan mengingat tanggung jawab sebagai penguasa negeri yang harus melindungi segenap rakyatnya dari kesengsaraan hidup. Saya hanya bergumam di balik tembok tanpa bisa melakukan apa-apa kecuali menista para pemimpin negeri yang saat ini sibuk bagi-bagi kue kursi kementrian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s