MENANGGAPI KURIKULUM 2013

Hosting Unlimited Indonesia
Pemerintah berencana mengubah kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013, rencana ini dimulai dengan uji public yang dilaksanakan sampai tanggal 12 Desember 2012. Setelah uji public kurikulum ini akan berlaku mulai awal tahun 2013. Rancangan kurikulum tersebut tentu saja membuat semua komponen pendidikan harus mempersiapkan diri secara matang baik dalam materi maupun sistematika pelaksanaan. Persiapan ini tentu saja tidak hanya memakan waktu, tetapi juga memakan financial yang tidak sedikit. Rencana tidak adanya pembimbingan terpadu untuk para guru justru akan menambah kerumitan pelaksanakan transformasi kurikulum ini di kemudian hari. Melihat para pendidik saat ini masih terpaku pada kurikulum yang lama, alih-alih KTSP kurikulum KBK 2004 saja belum sepenuhnya berhasil dilaksanakan.

Di antara perubahan yang terlihat menonjol dari  kurikulum 2013 adalah mengurangi  jumlah mata pelajaran di SD, yaitu dari 10 mata pelajaran menjadi 6 saja  dan jenjang SMP, yaitu dari 12 mata pelajaran menjadi 10 saja,  dengan alasan kurikulum yang berlaku saat ini terlalu membebani peserta didik sehingga tujuan pembelajaran sulit tercapai. Perampingan mata pelajaran dinilai akan meringankan peserta didik sehingga mereka lebih bisa focus dalam belajar, jadi tujuan pembelajaran akan tercapai secara penuh.

Pada satu sisi perampingan mata pelajaran memang meringankan peserta didik dalam belajar, tetapi di sisi lain ada persoalan-persoalan yang belum tercover dalam kurikulum tersebut, sehingga dikhawatirkan akan mengurangi efektifitas dari kurikulum tersebut. Yaitu:

  1. Untuk SD kehilangan dua mata pelajaran akan membuat peserta didik kehilangan pengetahuan yang harus mereka miliki sebelum menginjak jenjang menengah pertama. Hal ini berdampak besar, yaitu sejumlah kompetensi akan hilang sementara tuntutan di jenjang menegah masih sama.
  2. Mata pelajaran Bahasa yang akan dipadati materi bacaan dari IPA dan IPS belum ada bukti keefektifannya, karena secara teoritis pengetahuan bukanlah bahasa dan bahasa bukanlah pengetahuan. Dua paket yang akan menjadi satu diyakini sulit berhasil, melihat bagaimana anak-anak sekarang sangat kesulitan dalam memahami sebuah perintah atau intruksi, jika ditambah harus menghafal definisi dan materi bacaannya (selama ini pengetahuan rata-rata dihafal), ini justru akan membuat mereka kewalahan. Atau salah satu kompetensi akan terkalahkan, jika bukan kompetensi bahasanya maka kompetensi pengetahuannya. Jika hal ini sudah final maka harus ada pendukung yang efektif untuk mendorong keduanya agar dapat terjaga. Selain penambahan jam pelajaran juga sarana dan prasarana harus menjadi program pendamping.
  3. Untuk SMP, pelajaran TIK tidak bisa dihapuskan, persoalannya tidak hanya terkait dengan anggapan bahwa TIK dapat digantikan dengan penggunaan TI oleh semua guru mata pelajaran. Akan tetapi selain masih diragukannya kelengkapan fasilitas yang dimiliki oleh para guru juga keberadaan TIK sebagai ilmu yang signifikan tidak bisa diabaikan begitu saja.  Bisa dilihat, saat ini masih banyak Satuan Pendidikan yang belum melengkapi pendidiknya dengan fasilitas TI, apalagi di daerah-daerah pelosok. Hal ini dikhawatirkan pelajaran TIK akan hilang dan tidak ada bekasnya samasekali serta membuat peserta didik terutama daerah pelosok akan tertinggal dalam bidang TI.  Menurut penulis TIK bukannya tidak perlu diajarkan dengan dalih hal tersebut merupakan kompetensi yang dengan sendirinya didapat melalui praktik, akan tetapi justru harus ditingkatkan standar kompetensinya, melihat kemajuan teknologi mendorong peserta didik semakin cepat beradaptasi. Perlu diingat bahwa TIK bukanlah ilmu pasti yang stagnan, ilmu ini justru terus berkembang dan  menjadi pionir kemajuan segala bidang ilmu, sehingga perlu adanya kurikulum yang mengaturnya. Hasilnya, peserta didik tidak hanya sekedar tahu tentang TIK akan tetapi juga dapat berperan dalam kemajuan TIK itu sendiri.

Menurut penulis secara mendasar kurikulum 2013 tidak harus menggusur kedudukan ilmu pengetahuan  di SD maupun TIK di SMP, karena jika persoalannya adalah beban siswa yang berat maka hal tersebut dapat diselesaikan dengan penambahan jam pelajaran saja. Sebab ini akan lebih visible, pengurangan mata pelajaran hanya akan mengurangi kompetensi siswa dan membuat rumit proses pembelajaran yang lain, karena materi harus berbagi ruang dalam “kepala” siswa.  Integrasi yang digadang-gadang hanya akan menjadi kerumitan belaka. Dengan kata lain penulis cenderung memilih pemisahan mata pelajaran ilmu pengetahuan dari pada integrasi yang akan menimbulkan kerancuan.
Hosting Unlimited Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s