Cerita Desaku (Bag.2)

Hujan yang mengguyur Sore itu amatlah deras. Seluruh keluargaku kumpul di ruang tengah. Aku dan adikku yang kedinginan berselimut sarung dan merengkuh bantal yang tidak baru lagi. Kumal penuh dengan pulau. Ditemani dengan warning (jagung kering digoreng) dalam kaleng biskuit, satu per satu kumakan dengan lahap, gurih, kriuk-kriuk….menguji gigiku yang masih muda, dan kuat. Usiaku saat itu sekitar 10 tahun, masih suka bermain bola dan dengan bangga menantang tim tetangga desa, dengan penuh kepercayaan diri, meski akhirnya kalah tak terduga. Namun sebagai tim kesebelasan kecil, kami memang kompak. Sering berdiskusi di lereng sungai yang kering di musim kemarau. Membuat gua, ….iya gua di tebing sungai, benar-benar kami lakukan. Tempat persembunyian rahasia, unik memang, kami pun menyadari itu sangat unik, tiap sore kami masuk ke gua itu, ambil makanan dari rumah, makan di situ rame-rame. Saking senangnya dengan gua tersebut, kami membagi sift untuk perluasan gua, pagi, siang, sore, alatnya cukup dengan cangkul dan linggis, sampai akhirnya gua kami  bisa digunakan untuk selonjor dan tiduran. Pernah aku tertidur didalamnya, rasanya seperti didalam kuburan. Seolah-olah malaikat munkar dan nakir datang dan bertanya sopo pengeranmu………. Rasanya sangat sejuk, memang banar-benar tempat ngadem yang sempurna. mulut gua kami beri tutup dari karung…., tiba waktu mandi sore hari, banyak anak-anak cewek dari desa tetangga mandi di sungai, waktunya kami beraksi…….sebenarnya itu fungsi tak terduga, hihihihi.

Tepat disi gua kami, sebongkah kayu yang dulu berhasil didapat oleh Wak Senen sewaktu banjir dulu. Memang kayu jati yang bernilai, meski warnanya hitam, teksturnya pun seperti monster, kasar dan tua. Terkadang kami sering duduk di situ. Beberapa kali terlihat istri wak senen memecel (memotong sedikit) kayu tersebut, katanya untuk masak. Tepat diatasnya lagi kayu Randu, gedenya segede bedug. Itu kayu yang diperoleh ayahku dulu. Kamipun bangga dengan kayu tersebut. Prestasi tersebesar ayahku dalam hal “Nyarah Kayu”. Sudah dipeceli juga, sedikit-demi sedikit sehingga bentuknya sudah tidak utuh gelondongan. Ayahku memakainya untuk memasak juga.

Kembali ke Sore…Hujan begitu deras, hingga masuk waktu maghrib, kami sekeluarga pun beranjak sholat. selepas sholat kami pun mengaji, (kayak di ipin upin). setelah mengaji kami bercengkrama lagi di ruang tengah, Ayah kami sibuk dengan lintingan rokonya, dan aku sendiri sibuk dengan PR matematikaku………. Setelah beberapa lama, tiba-tiba terdengar suara seperti orang yang sedang bertengkar dengan suara yang keras. Kami pun kemudian keluar rumah untuk memeriksanya. Setelah tahu ternyata Wak Zen Putra Wak Senen lah yang berteriak-teriak seperti orang kesurupan kami tidak boleh keluar. kami hanya mengintip dari lubang papan di rumah. Kami sekeluarga pun akhirnya ketakutan, dan bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi di rumah wak senen. Terlihat dalam hujan yang lebat dua orang saling berkejaran, sesaat kemudian salah seorang meloncat ke sebuah pohon dengan ringannya, mirip seperti macan. Beberapa orang berusaha menangkapnya, tapi mereka pun kalah dengan kekuatan Wak Zen yang seperti macan tersebut. Setelah berhasil dijagal banyak orang, tiba-tiba wak Zen berlari dan menghampiri  dan memeluk erat-erat kayu jati yang sudah diambil ke daratan, (tadinya masih disamping gua, karena mau banjir, kayu tersebut diangkat oleh putra wak senen yang lain yang bernama Wak Apip, agar kayu tersebut tidak hanyut). Karena situasi semakin mencekam dan semua keluarga wak Senen kebingungan, akhirnya didatangkanlah orang pintar yang bernama Wak Pur, ia terkenal bisa mengobati orang yang kesambet, atau mengobati anak-anak yang sering menangis malam-malam karena diganggu bangsa lain.

Dengan tenang Wak Pur membaca mantra komat-kamit, tapi wak Zen Malah berteriak dengan kasar. ” Sopo Kowe (siapa kamu)”. tanya Wak Zen. “aku wak Pur, mosok kowe lali (aku Wak Pur masak kamu lupa). Jawab wak Pur.

“apa kamu mau roti?” tanya wak Pur.

“Nggak mau” jawab wak Zen.

Akhirnya dengan membaca mantra dan wirid setan ditubuh wak Zen keluar juga, dan wak Zen pun akhirnya sadar.

Keesokan harinya warga pun geger berbondong-bondong ingin melihat mencari tahu peristiwa yang sebenarnya di rumah Wak Senen tadi malam, dan apa yang sebenarnya terjadi pada diri Wak Zen, dan bagaimana sebenarnya misteri kayu jati tua tersebut.

Di sebuah amben-amben (dipan buatan kecil ) di tepi sungai, Wak Zen dengan rambut yang rewo-rewo, duduk bersila sambil bercerita apa yang dirasakan pada saat kesurupan malam itu.

” aku juga sadar, kalau aku itu kesurupan”. ungkap Wak Zen.

“La pas sampean loncat ke Pohon njenegan kok bisa?, padahal kan tinggi?”. Tanya salah seorang.

” La itu saya juga bingung, kok saya bisa loncat setinggi itu.”…Jawab Wak Zen.

“Orang pas Wak Pur nawarin roti, saya juga sebenarnya mau, tapi ndak tahu, kayak ada orang yang bilang emoh….gitu.”

Usut punya usut, ternyata yang merasuki Wak Zen adalah Siluman Harimau yang berasal dari Kayu Jati Tua tersebut. Dan Akhirnya keesokan harinya kayu tersebut dibuang. Dihanyutkan di Sungai. Setelah itu Amanlah Kampung tersebut, dan Wak Senen dan anak-anaknya akhirnya berencana membuat Perahu lagi untuk mengganti perahu yang telah hanyut dulu.

Bersambung……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s