Mahasiswa Tadris dan Harapan Masa Depan

Oleh : M. Abdurrohim*


”Mengajari anak-anak berhitung memang bagus, tapi yang terbaik adalah mengajari mereka apa yang perlu diperhitungkan”(Bob Talbert)

Dalam sebuah perenungan, saya pernah mendapat kesimpulan bahwa mahasiswa tadris di IAIN saat ini adalah mahasiswa yang mempunyai potensi besar dalam dunia kerja. Pikiran pragmatis ini tidak semata-mata muncul dari perenungan namun juga melihat realita. Terbukti ketika mahasiswa ditanya mengapa mereka memilih tadris di IAIN. Tak lain jawaban yang sering dilontarkan adalah karena melihat finansial yang murah kemudian yang kedua adalah kebutuhan pasar yang mereka anggap masih besar dalam hal ilmu-ilmu umum seperti bahasa inggris dan MIPA. Apakah hal ini benar?

Mengamati perkembangan dunia pendidikan di tingkat satuan pendidikan saat ini memang telah terjadi kekosongan pada tenaga pendidik ilmu-ilmu umum. Dengan demikian minat mahasiswa memilih jurusan Tadris di IAIN memang hal yang sudah semestinya. Dampak dari itu jelas terlihat dengan membludaknya pendaftar mahasiswa baru di IAIN yang didominasi oleh fakultas Tarbiyah, lebih-lebih jurusan yang dipilih adalah Tadris.

Pada dasarnya pilihan mereka secara pragmatis memang benar. Tidak akan menjadi permasalahan untuk waktu yang akan datang. Namun permasalahan selanjutnya adalah nilai yang dibawa oleh IAIN sebagai institusi Islam yang mencetak lulusan yang ahli dalam hal agama. Apakah sudah benar-benar teruji ketika pencetak ahli agama kemudian membuat ’’odo-odo” mencetak tenaga ahli pendidik ilmu umum seperti IKIP dan UNNES?. Dalam tujuan dan visi Jurusan Tadris telah sedikit menjawab pertanyaan ini. Maksud dari Tadris adalah mencetak tenaga pendidik umum untuk satuan pendidikan yang berbasis Islam. Kata kuncinya adalah sekolahan Islam yang mengajarkan nilai-nilai Islam lebih dari pada sekolah umum biasanya. Dimaksudkan agar para lulusan Tadris mampu menjawab persolan persoalan sekolah-sekolah yang berbasis Islam seperti MA/MAKN pada mata pelajaran-mata pelajaran umum. Sedikit permasalahan yang telah terjadi sebelumnya adalah kurang mengenanya materi –materi umum yang kemudian disampaikan dalam balutan pengetahuan agama Islam. Mau tidak mau tenaga pengajar ilmu umum di sekolah agama harus menguasai kaitan-kaitan materi dengan ilmu agama Islam. Di sinilah letak persolan mendasar mengapa di IAIN membuka jurusan Tadris. Begitu ideal dan amat mulia. Dimana kita mengetahui bahwa Islam akan menjadi dasar segala ilmu pengetahuan yang ada.  Tapi apakah yang kemudian terjadi pada tataran praktek di Tadris saat ini?.

Integrasi Dilematis

Sebenaranya ada hal yang dilematis dalam pembahasan ini. Ketika menganggap bahwa integrasi ilmu agama dengan ilmu umum merupakan hal yang sangat mulia dan ideal, akan tetapi anggapan bahwa hal itu dapat dengan mudah dilakukan menjadi persolannya. Terbukti kesulitan yang dihadapi Jurusan Tadris terutama untuk prodi MIPA sampai saat ini tidak cukup sanggup mengayahi kedua ilmu tersebut secara optimal. Keadaan yang sekarang terjadi adalah mahasiswa kesulitan mengoptimalkan keduanya. Sederhananya fokus pada satu mata kuliah itu lebih optimal dari pada membaginya menjadi dua mata kuliah. Dengan konten SKS yang relatif sama dengan perguruan tinggi lain mahasiswa dituntut dapat menguasai dua ilmu sekaligus.

Sebenarnya persoalan yang telah bertahan selama 6 tahun ini sudah sedikit mendapatkan jawaban seiring dengan perkembangannya selama itu. Sudah banyak pula yang telah melenggang lulus dari jurusan Tadris ini. Namun yang masih dipersoalkan lagi adalah kualitas lulusannya di mana sampai saat sekarang ini tida ada kabar yang kemudian membuat geliat tadris tampak dan muncul di permukaan. Meskipun begitu masih banyak pula yang mendaftarkan dirinya pada jurusan ini. Entah apa yang menjadi visi masing-masing dari mereka. Tentu saja yang pasti ada yang praktis ada pula yang cenderung idealis tanpa atau samasekali berpikir pragmatis.

Tanggung jawab yang dipikul oleh jajaran pejabat jurusan tadris memang terhitung berat, sebagai jurusan yang baru berumur 6 tahun tentunya mulai berpikir out put yang berkualitas. Harapan besar mahasiswa tentu saja kebijakan yang mementingkan kualitaslah yang harus diutamakan. Tidak semata-mata memenuhi peikiran ideal saja. Misalnya memaksakan integrasi yang lebih pada dua materi yang berbeda yaitu umum dan agama. Banyak mahasiswa yang cenderung mengeluhkan bahwa prodi mereka samasekali tidak membutuhkan mata kuliah umum MKU tertentu, pertimbangan mereka tentu saja prodi mereka yang sangat jauh dari mata kuliah itu. Entah benar dan entah salah apa yang mereka pikirkan, yang pasti mereka terbebani dengan mata kuliah yang mereka anggap tidak perlu itu.

Pragmatisme memang sangat bertentangan dengan ide-ide pokok yang menjadi suatu tujuan tertentu, namun bagaimanapun sebuah kebutuhan harus dipenuhi dengan sebuah solusi yang tepat pula tanpa memberatkan hal itu sendiri yang mengakibatkan solusi tersebut menimbulkan persoalan yang baru lagi.

Harapan mahasiwa tadris adalah terpenuhinya semua kebutuhan mereka kemudian pertimbangan muatan mata kuliah yang proporsional, itu saja. Hingga mereka dapat menempuh perkuliahan tanpa harus berpikir ulang mengapa saya harus mendapat mata kuliah ini itu.

Satu lagi, bahwa sebuah arah yang diberikan oleh pendidikan untuk mengawali hidup seseorang akan menentukan masa depannya, demikian yang dikatakan oleh Plato.


Memimpikan Dosen Tadris Ideal

Oleh: Muhammad Abdurrohim
Memimpikan Jurusan Tadris sebagai jurusan yang berkualitas tampaknya harus dihentikan sejenak sementara kita melihat banyak dosen di Jurusan ini yang masih mempunyai kualitas yang minim. Fakta ini dapat dijumpai di beberapa kelas di jurusan tadris seperti kelas fisika, bahasa inggris, biologi, kimia dan matematika. Beberapa mahasiswa merasa aneh saja ketika ada dosen yang kurang menguasai materi ajarnya. Belum lagi dipandang dari segi penyampaian pembelajaran. Hal ini bukan saja sebagai ironi akan tetapi sebuah kondisi yang perlu dipikirkan kembali sementara isu konversi IAIN ke UIN terus berhembus.

Dosen adalah salah satu komponen esensial dalam suatu sistem pendidikan di perguruan tinggi. Peran, tugas, dan tanggungjawab dosen sangat penting dalam mewujudkan institusi keilmuan yang ideal. Meskipun belum saatnya kita merujuk pada UU Guru dan Dosen untuk menilai dosen di Jurusan Tadris, akan tetapi setidaknya kualifikasi sederhana perlu dilakukan dalam memilih dan menetapkan dosen baik dosen bantu maupun asisten dosen. Tidak asal bertitel saja akan tetapi bagaimana kapasitas minimum yang harus dimiliki sudah dimiliki oleh dosen tersebut.
Selama ini mahasiswa sebagai pelaku pembelajaran memilih diam ketika melihat dosen yang tidak memenuhi apa yang seharusnya sebagai dosen di kelas. Karena minimnya kontrol dari birokrasi serta tindakan untuk menjawab persoalan yang demikian itu. Sehingga permasalahan seolah hanya seperti api yang berada dalam sekam yang pada akhirnya akan mempengaruhi out put dari Jurusan tadris tercinta ini.
Sertifikasi Bukan Sertifikat
Selama ini program pemerintah yang ditelurkan dari UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dianggap sebagai jawaban dari persoalan kompetensi seorang dosen. Akan tetapi jawaban ini bukan tidak menemui persoalan, justru ada hal yang unik yang menjadi ironi ditengah-tengah dikejarnya tujuan dari sertifikasi tersebut. Yaitu anggapan sertifikat sebagai penentu kualitas yang sangat mengimbas pada sikap dan tingkah laku dosen yang menutup mata dan telinga, memanfaatkan segala cara untuk memperoleh status profesional tersebut. Sertifikasi kehilangan makna sejatinya. Meskipun tidak dilengkapi dengan data yang jelas hal ini pasti ada.
Melihat kondisi Tadris yang masih berada dalam pertumbuhan, maka semua kemungkinan buruk bisa dianggap maklum, akan tetapi tidak kemudian mengawalinya dengan kebijakan-kebijakan yang sumbang. Seperti memilih dosen baru tanpa melihat kualifikasinya. Hal ini perlu diperhatikan pimpinan birokrasi sebagai upaya optimal menuju Tadris yang progresif.
Setidaknya kualifikasi yang jelas menjadi acuan untuk merekrut dosen baru di semua jurusan Tadris yang sekarang ini sudah berjalan selama 6 tahun lebih. Melakukan kontrol untuk melihat pelaksanaan kegaiatan pembelajaran di setiap ruang kelas, apakah sudah berjalan dengan seharusnya ataukah tidak. Mengganti dosen yang sudah jelas tidak mampu mengampu pembelajaran dengan baik (dilihat dari keterangan mahasiswa yang diampu). Dan untuk jangka yang lebih panjang birokrasi wajib menjadikan semua dosen di Jurusan Tadris lulus kualifikasi sebagai dosen profesional.
Dosen Profesional
Tidak semata-mata sebagai cita-cita yang akhirnya membutakan karena tingginya tunjangan yang akan menjadi buah materiilnya, akan tetapi Profesionalitas adalah bentuk tanggungjawab yang besar yang akan ditagih oleh mahasiswa. Secara normatif sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dosen dinyatakan sebagai pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Bab 1 Pasal 1 ayat 2). Sementara itu, profesional dinyatakan sebagai pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Kompetensi tenaga pendidik, khususnya dosen, diartikan sebagai seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai dan diwujudkan oleh dosen dalam melaksanakan tugas profesionalnya. Kompetensi tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional.
Akhirnya kita perlu berpikir ulang ketiak hendak menjadikan tadris sebagai jurusan yag berkualitas dengan melihat kembali seluruh aspek yang menjadi faktor tercapainya jurusan yang ideal termasuk kualifikasi dosen beserta perangkatnya secara administratif. Membuka mata lebar-lebar untuk melihat realita adalah hal yang lebih bermanfaat daripada memilih buta terhadap sesuatu yang memang benar-benar terjadi. Semoga tadris menjadi jurusan yang benar-benar berkualitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s