Membangun Black Opinion Pada Pornografi

Oleh : Muhammad Abdurrohim*

Bersinggungan langsung dengan objek adalah hal yang sangat tepat ketika berbicara masalah realitas. Seperti halnya kondisi moral anak – anak generasi bangsa umur 15-20 tahun. Massa pubertas dan masa gencar-gencarnya anak muda menaruh perhatian besar pada pertumbuhan sexnya. Di sela-sela dialog lepas dengan seorang siswa kelas 1 SMA saya bertanya tentang masalah wanita, ia menjawab dengan terbata-bata, ia sangat suka dan tertarik. Hal tersebut wajar versi saya, namun meskipun begitu saat ini kondisi yang separah terjadi adalah minat mereka untuk mengakses situs-situs dan mendownload konten-konten porno, video, gambar, dll.  Ini sungguh ironis untuk seumuran kelas 1-3 SMA. Begitu mudahnya mereka mencari hubungan dengan penyedia atau teman yang mempunyai konten-konten tersebut. Bahkan itu sudah menjadi rahasia bersama di hadapan guru, orang tua, dan lainnya. Gejala tersebut menunjukkan betapa parahnya kondisi moral remaja sekarang ini.

Mencermati hal tersebut menimbulkan keprihatinan yang lebih dalam pikiran penulis. Seolah-olah jika menatap masa depan, Negara Indonesia ini bakal segera digantikan oleh pemimpin-pemimpin yang berotak mesum dan cabul. Perlu penanganan yang intensif terkait hal tersebut.

Sudah menjadi lumrah ketika seorang pelajar membawa hp dan menyimpan konten porno tersebut. Dan ini disadari oleh banyak pihak. Seperti halnya orang menganggap bahwa menyontek di dalam ujian itu dilarang, namun tetap saja sudah menjadi lumrah ketika seorang pelajar menyontek jawaban temannya saat ujian berlangsung. Ketika seorang pelajar diam saat ditanya oleh guru tentang apa yang ia simpan dalam hape atau flasdisknya. Jawabannya, pasti mereka tidak menyimpan konten porno. Mereka memang tidak berkutik ketika saat di sekolah, tapi mereka tetap leluasa saat pulang dari sekolah. Di warnet-warnet, komputer pribadi, dan di kamar-kamar salah seorang pelajar, bisa dipastikan. Meskipun tidak tampak, tapi gelagat serta indikasinya dapat dikenali dengan jelas. Salah satunya jika mereka sudah terbiasa membicarakan Miyabi, XXX,XXX, maka jelas bahwa mereka pernah dan ketagihan untuk menontonnya. Jika tidak di warnet pasti di komputer pribadi atau di Hp.

Permasalahan ini menjadi lebih rumit, karena selain hal buruk tersebut menjadi kebiasaan  yang dianggap wajar oleh teman-teman sebayanya, pada akhirnya juga cepat menjadi bulan-bulanan dan primadona di antara banyak dari siswa, secara tertutup dan tidak diketahui oleh guru atau staf pengajar. Maka harus disadari betul bahwa permasalahan ini seperti fenomena gunung es yang tampak kecil di luar tapi sangat besar di dalamnya.

Bahaya Laten

Terkadang banyak orang yang menganggap hal tersebut wajar dan lumrah, toh nanti ketika beranjak dewasa kebiasaan tersebut akan berkurang dan hilang seiring dengan pola pikir dewasa mereka. Padahal dampak yang jelas terlihat saja sudah banyak sekali. Seperti hamil di luar nikah, pelecehan seksual remaja, dll. Belum lagi mental pelajar yang menjadi lamban belajar dan malas-malasan, tidak fokus pada pelajaran dan sering pergi ke warnet tidak untuk mencari bahan pelajaran tapi membuka dan mencari konten-konten porno. Inilah yang perlu segera mendapat perhatian serius, terutama oleh guru, orang tua, dan pemerhati pendidikan.

Solusi seperti apakah yang tepat untuk persoalan semacam ini? Banyak alternatif dan aspek yang bersinggungan dengan gejala moral seperti ini. Yang pertama jelas, pendidikan moral, pendidikan ini berjalan di atas aspek moral siswa, di mana di dalamnya materi norma atau nilai yang baik dalam masyarakat diberikan kepada setiap pelajar. Ini tentu berpengaruh besar terhadap kondisi moral siswa, akan tetapi tidak akan sampai menyentuh aspek terdalam pada diri siswa, yaitu keteguhan hati secara pribadi untuk meninggalkan semua tentang hal-hal buruk di atas. Paling tidak mereka merasa malu jika aspek rahasia atau pribadi tersebut diketahui secara langsung oleh orang lain. Implikasinya adalah terhindarnya siswa dari perbuatan-perbuatan tidak sopan di lingkungan masyarakat, hanya itu.

Ada hal lain yang masih belum terselesaikan, yaitu aspek pribadi siswa yang masih mungkin disembunyikan untuk melakukan  hal-hal buruk itu secara pribadi, dalam kesendiriannya tanpa diketahui oleh pihak lain bahkan teman terdekatnya. Aspek ini sulit untuk diidentifikasi, namun di sinilah peran pendidikan agama mempunyai andil yang cukup besar. Ajaran-ajaran agama yang menyentuh ranah-ranah privasi siswa harus diberikan secara benar dana mengena. Implikasi logisnya siswa akan merasa sungkan dan berpikir ulang ketika akan berbuat buruk, karena  telah berbicara masalah  agama atau ketuhanan di kelasnya.

Namun, pada dasarnya keduanya pendidikan moral dan pendidikan agama mempunyai kendala yang khas. Yaitu ikatan emosi siswa terhadap teman sebayanya atau dalam arti kelompoknya lebih kuat dari pada menuruti ucapan-ucapan suci dari guru pendidikan moral atau agama. Inilah yang biasa disebut sebagai aspek lingkungan. Siswa akan sadar sementara ketika hanya berada dalam kemelut pikirannya sendiri, akan tetapi seiring waktu berjalan, kesadaran tersebut berubah jika teman-temannya masih menjadi pilihan kuat untuk tetap membiasakan hal buruk tersebut dalam kesehariannya.

Membangun opini buruk untuk hal-hal yang buruk tersebut sangat berguna sekali,  seperti menyiptakan sebuah citra buruk yang disepakati bersama di kelas atau menceritakan pengalaman buruk untuk hal-hal buruk tersebut. Terbukti dengan membatasi pembahasan serta penyebutan tentang hal-hal buruk tersebut sudah cukup mengurangi rasa  biasa wae pada diri siswa. Munculnya polemik Miyabi baru-baru ini juga sebenarnya berdampak pada kecenderungan siswa untuk mencoba menyarinya di internet. Padahal jika hal itu tidak pernah muncul di permukaan maka kemungkinan besar orang akan sedikit mengenal tentang hal tersebut dan sedikit juga yang akan mengakses benda haram itu.

Masyarakat Dan Pemahamannya
Oleh: Muhammad Abdurrohim
Kemiskinan di Negeri ini lebih kuat disebabkan oleh banyaknya jumlah penduduk dengan pertumbuhannya yang tak terkendali dengan baik. Sebuah konsekuensi dari luasnya wilayah teritorial Indonesia sendiri. Perlu pemecahan secara cerdas menyikapi persoalan yang rumit ini.
Dengan program KB yang dicanangkan oleh pemerintah sejak rezim orde baru sampai sekarang tampaknya kurang memperlihatkan perubahan yang signifikan. Tentu saja dilihat dari semakin bertambahnya pengangguran, dan juga kemiskinqan sebagai dampak dari pengangguran tersebut. Jika dilihat dari riwayat berjalannya program KB dari BKKBN maka sebenarnya sudah begitu dikenal dan tidak jarang yang telah berhasil dengan baik. Slogan dua anak cukup tampaknya juga telah merakyat. Namun kendala yang terjadi juga tidak kalah merakyat. Justru semakin tahun belakangan ini keluarga yang erniat menjadi “keluarga besar”ternyata banyak juga. Mereka tak kuasa membendung keinginan untuk memperoleh anugerah lebih banyak dengan adanya anak yang mereka harapkan. Namun disuatu sisi factor yang begitu kuat menjadikan banyak orang tua merasa perlu mendapatkan putera atau puteri lebih adalah paham akan filosofi “anyak anak banyak rejeki. Bahkan paham ini kebanyakan diderita oleh orang-orang yang berekonomi kelas bawah. Paham idealis semacam ini tentu saja tidak datang begitu saja. Aganma juga termasuk latar belakangmunculnya paham tersebut. Dalam agama islam terdapat pemikiran klasik yang dimotori oleh ulama’ sufi dimana orang yang berniat menikahkan putra/putri mereka maka Allah akan melapangkan rizki mereka. Meskipun tidak detil menekankan akan perihal anak, namun penafsiran sebagaian orang justru mengarah pda hal yang demikian. Dimana terdapat istilah yang banyak dikenal di masyarakat islam kalangan bawah bahwa setiap anak mempunyai atau membawa rizkinya masing-masing. Jadi berapapun anak yang telah berhasil diproduksi akan membawa rejekinya msing-masing.
Cukup berpengaruh dan sangat mungkin menjadi factor kurang suksesnya program KB dari pemerintah, melihat hal demikian perlu adanya reorientasi dari tokoh-tokoh islam guna meluruskan apa yang sebenarnya dan seharusnya menjadi pedoman. Idelitas yang cukup berakar di benak masyarakat tentang hal tersebut pada dasarnya tidaklah beralasan. Karena realitas yang banyak terjadi dilapangan adalha justru semakin banyaknya pengangguran, anak-anak jalanan, putus sekolah, dan korban-korban perubahan zaman lainnya.
Mengandalkan gerak ekonomi riil untuk mengubah realitas kemiskinan di Indonesia tampaknya menjadi sesuatu yng dekat dimimpi jauh di alam sadar selama tidak terbendungnya benih- benih bakal calon subjek dari kemiskinan itusendiri. Maka dari itu jalan yang menjadi alternative utama adalah usaha-usaha menekan pertumbuhan penduduk terutama di masyarakat ekonomi bawah. Yaitu dengan reorientasi pemahaman di kalangan agamawan untuk disosialisasikan dan dipahamai merata di setiap pelosok desa ataupun wilayah yang merupakan basis-basis masyarakat dengan paham demikian itu.
Lantas apakah dari para tokoh-tokoh agamawan memang sudah punya amunisi untuk hal tersebut ataukah belum?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s