SISI BURUK LAIN

Sudah saatnya insan pendidikan tidak terkecoh dengan hal-hal yang bersifat lahir saja. Banyak yang menunjukkan pro dan kontranya masing-masing. Namun peserta didik sebagai aspek grass root yang terpenting telah terlupakan.

Siswa bukanlah barang olahan yang siap diproses, mereka juga punya latar belakang serta faktor pribadi yang kuat untuk memutuskan nasib mereka sendiri. Jika UN yang sudah tidak proporsional untuk siswa masih harus digabung dengan SNMPTN, bagaimana nanti jadinya?

Ada tiga kemungkinan pada kondisi siswa jika UN dan SNMPTN jadi di gabung. Pertama, ada siswa yang lulus dengan prestasi baik dan ia mampu melanjutkan ke PTN. Tentu saja ini yang diharapkan oleh semua pihak  terutama PTN. Kedua, siswa lulus dengan prestasi baik dan ia tidak mampu melanjutkan ke PTN. Ini kendala sekaligus bahan pertimbangan untuk niat baik PTN, apakah akan dibuat akomodasi lanjutan untuk siswa-siswa seperti ini ataukah meninggalkannya sesuai dengan “UU Komersialisasi Pendidikan”? Ketiga, Diantara sekian ribu siswa yang mampu melanjutkan ke PTN Tidak lulus dengan prestasi baik. Apakah ini jelas tidak tidak masuk ataukah ada pertimbangan lain sesuai UU Komersialisasi pendidikan.

Yang jelas siswa yang tidak mampu melanjutkan kuliah akan tetap tidak masuk kriteria meskipun ia lulus dengan prestasi baik. Ini yang kemudian menjadi ironi ketika memang komitmen DIKNAS untuk tetap melanjutkan niatnya sangat kuat.

Pada dasarnya tidak ada persoalan apapun terkait digabung atau tidak UN dan SNMPTN. Kedua-duanya sama-sama dapat secara efektif menguji dan menyeleksi kompetensi siswa untuk lolos ke jenjang selanjutnya. Namun DIKNAS tidak boleh terjebak pada rutinitas yang terkesan baik-baik saja tersebut. Persoalan di tingkat grass root perlu mendapat perhatian yang lebih.

Yang perlu dibahas dan diperjelas sebenarnya adalah status UN yang dianggap tidak layak menjadi sistem  evaluasi pendidikan kita. Meskipun demikian UN sampai sekarang masih menjadi primadona  oleh DIKNAS untuk menjadi sistem yang memaksa masyarakat berpikir pragmatis.  Atau isu ini sengaja dibuat hanya untuk mengalihkan pandangan masyarakat yang sebenarnya sudah terjepit dengan sisten yang sudah ada tersebut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s